Penerapan standar-standar yang berlaku dalam dunia industri di Indonesia telah diterapkan sejak lama bahkan semenjak penjajahan Belanda. Manfaat penerapan standar dalam dunia industri yaitu dapat menjamin kesamaan kualitas dari setiap barang yang tiba di tangan konsumen. Dengan ini, tidak ada perbedaan yang terjadi dan konsumen dapat diyakinkan bahwa produsen mampu memenuhi kebutuhan yang telah dinyatakan. Timbulnya standar juga menimbulkan rangsangan untuk produsen dapat bersaing dan berlomba dalam menjunjung tinggi efisiensi dan kreativitas serta produktivitas. Persaingan yang sehat dapat timbul apabila ongkos produksi dan harga jual dari beberapa produsen tidak berbeda jauh. Oleh karena itu, standarisasi perlu diterapkan dan perlu menjadi sarana yang diefektifkan.
Standarisasi yang telah diterapkan oleh suatu industri ini memiliki ancamannya tersendiri. Gangguan yang disebabkan oleh faktor biotik maupun abiotik mampu mengancam standarisasi yang telah diterapkan. Beberapa diantaranya adalah gangguan yang ditimbulkan akibat hama. Timbulnya hama pada industri selain dapat memberikan dampak negatif pada operasional dan sanitasi, juga dapat menimbulkan kerusakan pada produk yang diproduksi. Produk yang dapat terserang oleh hama ini tidak hanya makanan, akan tetapi juga kain, kayu, hasil pertanian dan sebagainya. Perusakan produk yang timbul ini selain dapat mengurangi produktivitas secara keseluruhan, juga dapat menyebabkan produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Hal ini tentunya dapat menimbulkan ancaman terkait kepercayaan konsumen terhadap industri tersebut.
Mengapa Pengendalian Hama Penting bagi Industri?
Hama yang timbul pada bagian produksi tentunya dapat mengganggu kesehatan, sanitasi, serta operasional dari industri yang dijalankan. Pengendalian hama yang tepat dan efektif mampu mengurangi populasi hama yang berada di sekitar lingkungan industri. Selain itu, pengendalian hama yang tepat dapat meningkatkan produktivitas yang dihasilkan dikarenakan jumlah produk yang rusak atau terkontaminasi berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah produk yang dihasilkan memenuhi standar dan dapat dikirim ke konsumen secara aman. Selain itu, hama seperti tikus dan kecoa mampu menjadi vektor penyakit yang dapat mengancam kesehatan manusia. Penyakit yang dibawa ini akan sangat berbahaya bagi pekerja yang berada di lingkungan industri tersebut. Selain itu, dalam industri pangan dan kesehatan seperti obat-obatan, sayuran, makanan kaleng dan produsen alat kesehatan sangat menjunjung tinggi standar sanitasi dan tentunya infestasi hama yang terjadi dapat mengkontaminasi produk yang dihasilkan. Hal ini akan sangat berbahaya apabila terdapat konsumen yang terinfeksi oleh penyakit yang ditimbulkan dan dapat mengancam reputasi perusahaan. Selain itu, beberapa negara maju memiliki aturan dan regulasi yang diterapkan dalam mengatur standarisasi dari beberapa jenis produk. Sebagai contoh, salah satu aspek penilaian dari produksi biji kokoa adalah kandungan jamur yang perlu memenuhi batas tertentu untuk dapat dikategorikan Grade A. Ketidakmampuan memenuhi standar ini tentunya dapat mengurangi kualitas biji kokoa yang dihasilkan yang menyebabkan turunnya harga jual. Pengendalian hama yang tepat juga dapat menjaga reputasi perusahaan di mata para mitra bisnis.
Jenis-jenis Hama yang Mengancam Industri
Berbagai resiko yang telah disebutkan sebelumnya merupakan dampak yang dapat timbul apabila populasi hama tidak dikendalikan. Salah satu komponen penting dari pengendalian hama adalah mengenali jenis hama yang umumnya timbul dalam lingkungan industri dan mengenali habitatnya. Beberapa jenis hama yang umumnya terdapat dalam lingkungan industri adalah:
1. Kecoa
Kecoa merupakan jenis hama yang tidak hanya ditemukan dalam rumah tangga, tetapi juga dapat ditemukan dalam lingkungan industri. Beberapa spesies seperti Blatella germanica atau kecoa jerman kerap kali ditemukkan dalam industri makanan seperti restoran. Hal ini dikarenakan banyaknya sumber nutrisi seperti bahan makanan segar maupun sisa sisa tumpahan makanan dapat menarik perhatian kecoa ini. Selain itu, kecoa juga dapat menjadi vektor penyakit yang dibawa oleh mikroorganisme seperti E. coli, Salmonella, dan juga tifus.
2. Lalat
Lalat umumnya memiliki habitat dengan lingkungan yang lembab dan penuh dengan bahan organik. Lalat juga memiliki preferensi bertelur pada tempat yang lembab seperti tempat sampah, saluran pembuangan, ataupun wilayah-wilayah sudut yang kurang higienis. Selain mampu menjadi vektor penyakit, larva lalat juga menimbulkan bau yang kurang sedap dikarenakan proses dekomposisi media tumbuh yang mereka manfaatkan sebagai sumber nutrisi. Hal ini tentunya akan mengundang semakin banyak lalat untuk hinggap dan bertelur. Lalat juga dapat bertelur diatas bahan makanan segar seperti daging-dagingan yang tentunya sangat merusak standar sanitasi yang telah diterapkan.
3. Semut
Semut dapat menginfestasi gudang penyimpanan dan merusak produk jadi yang telah disimpan. Infestasi semut umumnya terjadi dikarenakan adanya aroma yang mengundang yang berciri khas manis seperti gula-gulaan. Beberapa produk seperti buah-buahan segar, sirup, dan tebu yang disimpan apabila tidak dengan benar, dapat mengundang infestasi semut. Selain itu, fasilitas yang telah menua sehingga menimbulkan celah dan retakan pada dinding bangunan dapat menjadi tempat untuk semut bersarang.
4. Tikus
Tikus merupakan jenis hama yang tergolong sebagai hewan pemakan segala. Oleh karena itu, banyak variasi produk yang dapat terserang oleh hama tikus mulai dari kain, makanan, daging-dagingan, hingga barang berbahan plastik dapat rusak dikarenakan serangan hama tikus. Hal ini dikarenakan tikus termasuk hewan pengerat yang mampu menimbulkan kerusakan dari gigitan nya. Tidak hanya produk yang dapat terserang oleh hama tikus, dikarenakan fisiologinya sebagai hewan pengerat yang membutuhkan media untuk mengasah giginya, tikus kerap kali menimbulkan kerusakan pada perkabelan listrik dan juga pipa saluran air. Hal ini tentunya dapat mengganggu operasional produksi apabila terdapat mesin yang rusak bagian elektrikalnya dikarenakan komponen kabelnya yang rusak oleh tikus. Selain itu, urin dan juga feses dari tikus dapat menimbulkan bau yang tidak sedap serta mengganggu sanitasi dari lingkungan.
Strategi Pengendalian Hama yang Efektif
Pengendalian hama yang tepat memerlukan sebuah strategi serta beberapa tahapan yang perlu dilakukan agar pengendalian hama tepat sasaran dan juga cost effective untuk mengurangi dampak kerugian yang telah timbul. Setelah mengenali jenis-jenis hama yang mungkin menyerang industri, maka langkah selanjutnya yang dapat dilakukan adalah penilaian resiko yang mungkin timbul apabila hama sudah menginfestasi. Selain itu, perlu juga dikenali lokasi-lokasi atau area tertentu yang memungkinkan timbulnya hama. Apabila area yang dinilai mungkin dapat timbul adanya infestasi hama, maka dapat dilakukan upaya preventif atau pencegahan. Hal-hal yang dapat dilakukan meliputi menjaga sanitasi agar area tersebut selalu bersih dan tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, menjaga sirkulasi udara agar lingkungan tidak lembab juga dapat dilakukan, begitu juga dengan pengendalian temperatur ruangan yang tepat agar produk tidak rusak sekaligus menciptakan lingkungan yang tidak tepat bagi hama untuk tumbuh dan berkembang biak. Manajemen limbah yang tepat dan menghindari tumpahan-tumpahan sisa makanan di lantai juga dapat mencegah timbulnya hama seperti semut atau kecoa. Langkah selanjutnya adalah monitoring dengan senantiasa melakukan inspeksi secara rutin untuk mengidentifikasi dan memantau apabila terjadi gejala gejala awal serangan hama. Pemanfaatan sensor ataupun kamera untuk memantau area apabila terjadi gejala serangan hama juga dapat dilakukan. Selain itu, edukasi dan bimbingan terhadap karyawan juga diperlukan sehingga pengetahuan mengenai hama yang dapat timbul dan juga gejala serangannya dapat tersebar secara merata. Hal ini dapat membantu identifikasi dini dimana apabila tanda-tanda gejala awal serangan hama mulai terlihat dapat secepatnya dilaporkan dan ditangani dengan baik dan benar. Apabila infestasi hama sudah mulai terlihat, maka penanganan aktif dapat dilakukan seperti penggunaan pestisida atau insektisida dengan dosis yang aman, peletakkan perangkap mekanis untuk tikus dan juga pemanfaatan predator alami untuk hama tersebut juga dapat dilakukan.
Referensi
Wahyuati,A.1987.”Pentingnya Standar Dalam Usaha”. Ekuitas, 1(1): 38-44